Logo Header

OPINI: Ketika AI Membantu Guru Mendidik dengan Hati

Redaksi
Redaksi Rabu, 29 Juli 2026 13:22
OPINI: Ketika AI Membantu Guru Mendidik dengan Hati

Oleh: Muh Zefri Awal (Guru SDN 042 Tarakan)

banner pemprov sulsel 2025

Kehadiran kecerdasan artifisial atau artificial intelligence dalam dunia pendidikan sering disambut dengan dua sikap yang berlawanan. Sebagian orang melihatnya sebagai kemajuan yang dapat membantu guru bekerja lebih efektif. Sebagian lainnya khawatir AI akan mengurangi peran manusia, bahkan menggantikan pekerjaan guru.

Kekhawatiran tersebut dapat dipahami. Namun, persoalan utama sebenarnya bukan apakah AI akan menggantikan guru, melainkan bagaimana guru menggunakan AI secara bijak. Dalam pengalaman saya, teknologi tidak mengurangi nilai seorang pendidik. Teknologi justru dapat memberi guru lebih banyak waktu untuk menjalankan tugas yang paling manusiawi: mendengarkan, mendampingi, memahami, dan mendidik siswa dengan hati.

Pekerjaan guru tidak berhenti ketika pembelajaran di kelas selesai. Setelah menjelaskan materi, guru masih harus menyusun soal, memeriksa pekerjaan siswa, merekap nilai, membuat laporan, menyiapkan pembelajaran berikutnya, dan berkomunikasi dengan orang tua. Banyak tugas tersebut bersifat administratif dan berulang.

Di tengah pekerjaan yang menumpuk, guru sering menghadapi pilihan yang tidak mudah. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mendampingi siswa justru habis untuk memeriksa dokumen, mencari kiriman tugas di antara ratusan pesan, atau memindahkan jawaban siswa secara manual ke lembar nilai.

Kondisi itu semakin terasa ketika pembelajaran harus dilakukan dari rumah. Guru dapat membagikan tugas melalui grup kelas, tetapi jawaban siswa biasanya dikirim dalam bentuk foto atau pesan pribadi. Akibatnya, jawaban tersebar di banyak percakapan.

Guru memerlukan waktu tambahan hanya untuk memastikan siapa yang sudah mengerjakan, siapa yang belum, dan siapa yang membutuhkan pendampingan. Pada titik inilah teknologi seharusnya digunakan. Bukan untuk menciptakan jarak antara guru dan siswa, melainkan untuk mengurangi pekerjaan teknis yang tidak perlu.

Saya mencoba memanfaatkan Google Gemini, Google Script, dan Google Spreadsheet untuk mengembangkan asesmen digital sederhana. Melalui sistem tersebut, siswa dapat membuka soal melalui sebuah tautan. Setelah siswa mengisi identitas dan mengirim jawaban, data langsung tersimpan secara teratur dalam satu lembar kerja.
Bagi sebagian orang, penggunaan Google Script mungkin terdengar rumit.

Tidak semua guru memiliki latar belakang pemrograman. Saya pun memahami bahwa melihat deretan kode dapat menimbulkan keraguan. Namun, kecerdasan artifisial memungkinkan guru menyampaikan kebutuhan melalui perintah atau prompt yang jelas.

Guru dapat meminta AI membantu membuat rancangan halaman asesmen yang memuat nama siswa, kelas, soal pilihan ganda, isian, esai, tombol pengiriman, dan penyimpanan jawaban. Kode yang dihasilkan kemudian diperiksa, disesuaikan, diuji, dan diperbaiki oleh guru.
Di sinilah posisi guru tetap tidak tergantikan.

AI dapat menghasilkan kode, tetapi AI tidak memahami sepenuhnya karakter setiap siswa. AI tidak mengetahui bahwa ada anak yang membutuhkan kalimat lebih sederhana, ada siswa yang mudah cemas ketika menghadapi soal, dan ada anak yang memerlukan dorongan sebelum berani menjawab.

AI juga tidak dapat menentukan sendiri apakah sebuah soal sesuai dengan tujuan pembelajaran, perkembangan usia, dan kondisi kelas. Semua keputusan tersebut tetap membutuhkan pengetahuan pedagogis, tanggung jawab, dan kepekaan seorang guru.

Karena itu, AI tidak boleh diposisikan sebagai pengambil keputusan dalam pendidikan. AI hanyalah alat bantu. Guru tetap menjadi perancang, pemeriksa, dan penanggung jawab utama proses pembelajaran.

Manfaat yang paling saya rasakan dari asesmen digital bukan sekadar tampilan yang lebih modern. Manfaat terbesarnya adalah tersedianya waktu yang lebih banyak.

Ketika jawaban siswa tersimpan secara otomatis, guru tidak perlu lagi mencari kiriman tugas satu per satu. Guru dapat lebih cepat melihat siswa yang telah mengerjakan, siswa yang belum mengirimkan jawaban, serta bagian materi yang masih sulit dipahami.

Waktu yang sebelumnya habis untuk pekerjaan berulang dapat digunakan untuk menghubungi orang tua, mendampingi anak yang tertinggal, memperbaiki cara mengajar, atau sekadar berbicara dengan siswa yang sedang menghadapi masalah. Inilah alasan saya percaya bahwa AI dapat membantu guru mendidik dengan hati.

Suatu ketika, setelah kegiatan pembelajaran selama satu semester berakhir, saya menerima beberapa pesan dari orang tua. Ada yang mengucapkan terima kasih karena anaknya dibimbing dengan sabar. Ada yang menyebut guru sebagai orang tua kedua di sekolah. Ada pula yang berharap saya tetap menjadi wali kelas anak mereka.

Pesan-pesan tersebut menjadi pengingat bahwa yang paling dihargai orang tua bukanlah aplikasi yang digunakan guru. Orang tua tidak mengucapkan terima kasih karena anak mereka mengerjakan soal melalui Google Script.

Mereka berterima kasih karena merasa anaknya diperhatikan, dibimbing, dan diperlakukan dengan kasih sayang. Teknologi mungkin membantu guru bekerja lebih cepat, tetapi hubungan manusia tetap menjadi inti pendidikan.

Sebuah nasihat yang kerap dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib menyatakan, “Tiada kekayaan yang lebih utama daripada akal, tiada keadaan yang lebih menyedihkan daripada kebodohan, dan tiada warisan yang lebih baik daripada pendidikan.”

Pesan tersebut tetap relevan pada era kecerdasan artifisial. Pendidikan bukan sekadar proses memindahkan informasi. Pendidikan adalah warisan nilai, cara berpikir, karakter, dan kemanusiaan. Teknologi dapat membantu memperluas akses terhadap pengetahuan, tetapi manusia tetap bertanggung jawab menentukan arah penggunaannya.

Oleh karena itu, penggunaan AI di sekolah harus disertai etika. Guru perlu memeriksa kembali hasil yang diberikan AI, melindungi data siswa, menghindari ketergantungan, dan memastikan teknologi digunakan sesuai kebutuhan anak.

Guru juga tidak boleh menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin. AI seharusnya menjadi alat untuk memperkuat kreativitas, bukan mematikan kreativitas. AI seharusnya membantu guru menyusun pekerjaan awal, bukan menggantikan penilaian profesionalnya.

Sekolah pun perlu memberikan ruang bagi guru untuk belajar. Tidak semua guru memiliki tingkat kemampuan digital yang sama. Ada yang cepat memahami teknologi, tetapi ada pula yang membutuhkan pendampingan bertahap. Perbedaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan siapa pun.

Transformasi pendidikan tidak akan berhasil apabila hanya mengandalkan aplikasi. Perubahan membutuhkan pelatihan, kolaborasi, keberanian mencoba, dan lingkungan yang tidak mempermalukan guru ketika melakukan kesalahan.

Pemanfaatan AI dalam pendidikan juga tidak harus dimulai dari proyek yang rumit. Guru dapat memulainya dari kebutuhan sederhana, seperti membuat latihan, merapikan bahan ajar, menyusun rancangan asesmen, atau membantu mengelola data hasil belajar. Hal terpenting bukan seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan seberapa besar manfaatnya bagi siswa.

Pada akhirnya, AI tidak akan menggantikan guru yang mampu menghadirkan keteladanan, empati, dan kasih sayang. Namun, guru yang memahami teknologi mungkin dapat bekerja lebih efektif daripada guru yang menolak mempelajarinya sama sekali.

Karena itu, perdebatan tentang AI seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah teknologi ini berbahaya atau bermanfaat. Pertanyaan yang lebih penting adalah: untuk kepentingan siapa AI digunakan?

Apabila AI hanya digunakan untuk mengejar kecepatan, pendidikan dapat kehilangan sentuhan manusia. Namun, apabila AI digunakan untuk mengurangi beban administratif dan memberi guru lebih banyak waktu bersama siswa, teknologi dapat menjadi bagian dari pendidikan yang lebih bermakna. Teknologi boleh semakin cerdas. Akan tetapi, pendidikan harus tetap memiliki hati.

Redaksi
Redaksi Rabu, 29 Juli 2026 13:22
Komentar