Pemupukan Tepat hingga Kendalikan Hama, BPDP, Ditjenbun, dan AKPY Bekali Pekebun Wajo Cara Tingkatkan Produktivitas Sawit

WAJAHINDONESIA.CO.ID, MAKASSAR – Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis kepada pekebun, tetapi juga membekali mereka dengan berbagai solusi praktis yang dapat langsung diterapkan di lapangan.

Materi yang diberikan meliputi teknik pemupukan berimbang, penggunaan bibit unggul bersertifikat, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga strategi adaptasi terhadap perubahan iklim. Seluruh materi tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kebun sekaligus mendongkrak pendapatan pekebun.

Sebanyak 150 pekebun asal Kabupaten Wajo mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian, dan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) di Makassar pada 14–20 Juli 2026.

Direktur AKPY, Dr. Sri Gunawan, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang agar pekebun tidak lagi hanya mengandalkan pengalaman turun-temurun atau mengikuti kebiasaan di lingkungan sekitar, melainkan menerapkan teknik budidaya sesuai kaidah Good Agricultural Practices (GAP).

“Selama ini banyak petani yang menanam berdasarkan pengalaman atau mengikuti tetangga. Melalui pelatihan ini, mereka akan mengetahui bibit yang benar, cara perawatan tanaman, hingga strategi menghadapi El Niño agar produktivitas tidak turun drastis,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu materi utama adalah penerapan pemupukan berimbang dan tepat waktu. Pekebun diajarkan untuk tidak melakukan pemupukan saat curah hujan terlalu rendah maupun terlalu tinggi karena pupuk berpotensi menguap atau hanyut sehingga tidak dapat diserap tanaman secara optimal.

Selain itu, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai upaya menjaga kesehatan tanah melalui pemanfaatan bahan organik, seperti pelepah dan limbah tanaman. Cara tersebut dinilai mampu meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air sehingga tanaman lebih tahan menghadapi musim kemarau.

Materi lainnya adalah pengendalian organisme pengganggu tanaman, khususnya ulat api dan ulat kantong yang populasinya cenderung meningkat saat terjadi cuaca ekstrem. Pekebun didorong untuk lebih rutin memantau kondisi kebun agar serangan hama dapat dideteksi sejak dini sebelum menyebabkan penurunan produksi.

Sebagai bagian dari strategi adaptasi terhadap perubahan iklim, peserta juga mempelajari teknik konservasi air melalui pembangunan embung, rorak, dan parit buntu untuk menjaga ketersediaan air selama musim kemarau. Upaya ini dinilai penting dalam menghadapi potensi dampak El Niño terhadap produktivitas kelapa sawit pada 2026.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, Hj. Nurul Fitriany Alimuddin, SP, berharap seluruh ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan secara nyata di kebun masing-masing.

Menurutnya, pelatihan akan memberikan manfaat apabila diikuti dengan perubahan praktik budidaya, terutama penggunaan bibit unggul bersertifikat, penerapan teknologi budidaya yang baik, serta pengelolaan kebun yang lebih profesional.

“Kami berharap bekal yang dibawa pulang dari pelatihan ini benar-benar dimaksimalkan di kebun masing-masing. Jangan ragu bertanya kepada narasumber agar setiap persoalan budidaya dapat ditemukan solusinya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo, Drs. Andi Pamereni, M.Si., menegaskan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia pekebun merupakan kunci dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing sawit rakyat.

Ia berharap pelatihan ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan pekebun yang lebih kompeten dalam menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), menjaga kelestarian lingkungan, serta meningkatkan hasil panen dan pendapatan usaha tani.

“Ilmu yang diperoleh hendaknya diterapkan di lapangan dan dibagikan kepada pekebun lainnya sehingga manfaatnya semakin luas dan mampu mendorong peningkatan produksi sawit di Kabupaten Wajo,” katanya.

Melalui pelatihan ini, BPDP, Ditjenbun, dan AKPY berupaya memperkuat kapasitas teknis pekebun sekaligus mendorong perubahan pola pengelolaan kebun menjadi lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.

Dengan penerapan pemupukan yang tepat, penggunaan bibit unggul, pengendalian hama yang efektif, serta pengelolaan tanah dan air yang baik, produktivitas kebun sawit rakyat diharapkan terus meningkat tanpa harus membuka lahan baru. Langkah tersebut diharapkan mampu mendukung peningkatan kesejahteraan pekebun sekaligus mewujudkan perkebunan kelapa sawit yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Naskah ini sudah menggunakan gaya berita yang lebih rapi, menghindari pengulangan, dan memiliki penutup yang lebih kuat sebagai closing berita.

Berita Terkait
Baca Juga