BPDP, Ditjenbun, dan AKPY Perkuat Sinergi Tingkatkan Kompetensi Pekebun Sawit Luwu Timur
WAJAHINDONESIA.CO.ID, MAKASSAR – Sinergi antara Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), pemerintah daerah, dan perguruan tinggi vokasi terus diperkuat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) perkebunan kelapa sawit.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) di Makassar pada 7–12 Juli 2026.
Program ini diikuti 149 peserta yang terdiri atas pekebun kelapa sawit, penyuluh, keluarga pekebun, dan karyawan kebun dari Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Para peserta dibagi ke dalam lima kelas pelatihan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi dalam mengelola kebun secara produktif, efisien, dan berkelanjutan.
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, menegaskan bahwa pembangunan perkebunan sawit rakyat tidak cukup hanya mengandalkan penyediaan benih unggul maupun sarana produksi. Menurutnya, investasi terbesar justru terletak pada peningkatan kualitas sumber daya manusianya.
“Keberhasilan sawit tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul ataupun pengelolaan kebun, tetapi juga ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Karena itu program BPDP ini bertujuan meningkatkan kapasitas, keterampilan, profesionalisme, dan daya saing petani agar mampu mengelola kebun secara lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebagai lembaga pendidikan vokasi yang berfokus pada sektor perkebunan, AKPY menghadirkan materi yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif sesuai kebutuhan di lapangan.
Peserta dibekali penerapan Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari penggunaan benih bersertifikat, pemupukan berimbang, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama terpadu, hingga pengelolaan kesuburan tanah dan teknik peningkatan fruit set.
Menurut Idum, perkembangan teknologi, perubahan iklim, serta meningkatnya tuntutan pasar global terhadap aspek keberlanjutan menjadikan peningkatan kompetensi pekebun sebagai kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Dukungan terhadap penguatan SDM juga datang dari Pemerintah Kabupaten Luwu Timur. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Luwu Timur, Subhang, S.Pt., M.Si., menilai Program SDMP merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas SDM pekebun sawit rakyat sekaligus memperkuat daya saing sektor perkebunan.
“Harapannya melalui pelatihan Program Pengembangan SDMP 2026 ini dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, profesionalisme, kompetensi, kemandirian, dan daya saing pekebun kelapa sawit,” katanya.
Ia berharap para peserta menjadi pelopor dalam menerapkan praktik budidaya yang baik di daerah masing-masing sehingga manfaat pelatihan tidak berhenti pada peserta, tetapi juga menyebar kepada pekebun lainnya.
Komitmen serupa disampaikan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, Hj. Nurul Fitriany Alimuddin, mengatakan pelatihan merupakan instrumen penting untuk meningkatkan kemampuan teknis maupun manajerial pekebun.
Menurutnya, pemerintah daerah membutuhkan dukungan berkelanjutan dari BPDP, Ditjenbun, dan lembaga pendidikan agar semakin banyak petani memperoleh akses pelatihan. Selain meningkatkan kompetensi, data peserta juga diharapkan menjadi dasar penentuan prioritas berbagai program pemerintah, seperti Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) maupun bantuan sarana dan prasarana.
Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Luwu Timur, Drs. Askar, yang mewakili Bupati Luwu Timur, menilai kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan perkebunan sawit rakyat.
Menurutnya, pembangunan sektor perkebunan tidak cukup hanya melalui bantuan fisik, tetapi juga harus dibarengi dengan peningkatan kualitas SDM yang mampu mengelola usaha perkebunan secara profesional.
Askar juga meminta seluruh peserta menjadi Training of Trainer (ToT) setelah kembali ke daerah masing-masing dengan membagikan ilmu yang diperoleh kepada pekebun lain sehingga manfaat program dapat dirasakan lebih luas.
Melalui sinergi BPDP sebagai penyandang dana, Ditjenbun sebagai pembina program, AKPY sebagai penyelenggara sekaligus lembaga pendidikan vokasi, serta dukungan aktif pemerintah daerah, Program Pengembangan SDM Perkebunan 2026 diharapkan mampu melahirkan pekebun sawit yang unggul, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta menjadi motor penggerak peningkatan produktivitas dan keberlanjutan perkebunan kelapa sawit rakyat di Indonesia.