
Festival Daur Bumi: Penutup Tahun yang Menjadi Titik Awal Transformasi Persampahan di Makassar
WAJAHINDONESIA.CO.ID – Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menggelar Festival Daur Bumi selama tiga hari, 12–14 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi penanda penutup akhir tahun yang sarat makna sekaligus titik awal perjalanan baru dalam upaya transformasi pengelolaan persampahan Kota Makassar.

Festival Daur Bumi tidak sekadar menjadi ajang perayaan, melainkan ruang temu dan panggung kolaborasi lintas elemen. Berbagai inisiatif, inovasi, serta praktik terbaik (best practices) pengelolaan sampah dipertemukan untuk menegaskan bahwa perubahan lingkungan hanya dapat terwujud melalui kerja bersama yang konsisten dan berkelanjutan.
Peran komunitas lingkungan tampil menonjol dalam festival ini. Para penggiat yang selama ini setia mendampingi masyarakat dalam edukasi pengelolaan sampah, baik yang telah lama bergerak maupun yang baru mengambil peran, hadir dengan beragam pendekatan dan keahlian.
Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa pengelolaan persampahan merupakan kerja kolektif yang inklusif dan berbasis partisipasi warga.
Berbagai sektor turut berkontribusi, mulai dari penggiat pemilahan dan pengolahan sampah, pelaku usaha produk daur ulang dari skala rintisan hingga yang telah menembus pasar internasional. Inovasi teknologi berbasis IT ditampilkan oleh SMK Telkom, pengolahan sampah organik berbasis maggot oleh Urban Agrofarm, serta Magalarva yang telah membuktikan bahwa sampah memiliki nilai ekonomi hingga ke pasar global.
Pengolahan kompos skala rumah tangga dan kawasan diperkenalkan oleh sejumlah komunitas dan Tumpuk Sampah. Pengelolaan minyak jelantah dihadirkan oleh Yayasan Pelipur, sementara praktik Eco Enzyme diperkuat oleh Komunitas Manggala Tanpa Sekat dan INLA yang konsisten membangun kesadaran lingkungan dari tingkat rumah tangga.
Kolaborasi pengelolaan sampah dengan urban farming turut ditunjukkan oleh Kebun Tetangga dan Tanami Tanah Ta, yang memperlihatkan keterkaitan erat antara pengurangan sampah dan penguatan ketahanan pangan. Media lingkungan Klik ID juga berperan penting dalam menyuarakan dan menyebarluaskan praktik-praktik baik tersebut kepada masyarakat luas.
Festival ini semakin semarak dengan kehadiran tokoh dan penggerak nasional, seperti Bule Sampah yang konsisten mengedukasi publik tentang persampahan, serta Pandawara Group yang menginspirasi gerakan bersih lingkungan melalui aksi nyata. Sejumlah pelaku lapangan lainnya turut berbagi pengalaman dan praktik terbaik dari wilayah masing-masing.
Dalam semangat kolaborasi tersebut, Bosowa Peduli mengambil peran strategis melalui edukasi persampahan di lingkungan kampus. Kampanye Lubang Resapan Biopori (LRB) dan Teba Modern yang dilakukan menjadi alternatif pengelolaan sampah organik berbasis rumah tangga dan komunitas, sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi muda bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari lingkungan terdekat secara sederhana dan aplikatif.
Lebih dari sekadar festival, Daur Bumi menjadi bagian penting dalam mendukung visi Wali Kota Makassar menuju Makassar Bebas Sampah 2029. Kegiatan ini menegaskan pentingnya penguatan kelembagaan hingga ke tingkat paling dekat dengan warga. Peran lurah, RT, dan RW diharapkan menjadi motor penggerak dalam optimalisasi pemilahan, pengolahan, dan pengurangan sampah dari sumbernya.
Puluhan komunitas hadir, termasuk para motivator DLH dan pendamping TPS3R yang selama ini berada di garda terdepan pengelolaan sampah kota. Kehadiran pemerintah dalam Festival Daur Bumi menjadi suntikan semangat baru bagi para penggiat lingkungan, sekaligus sinyal kuat bahwa kolaborasi lintas pemangku kepentingan akan terus diperkuat.
Festival Daur Bumi menegaskan bahwa perjalanan panjang pembenahan persampahan Kota Makassar sedang dan akan terus berlangsung. Dengan kolaborasi, penguatan kelembagaan, serta berbagi praktik terbaik, Makassar melangkah mantap menuju kota yang bersih, berdaya, dan berkelanjutan-sejalan dengan cita-cita Makassar Bebas Sampah 2029.
