Logo Header

Irwan Djafar Dorong Pemerintah Maksimalkan Pembinaan dan Konseling untuk Anjal-Gepeng di Makassar

Redaksi
Redaksi Minggu, 07 Juli 2024 15:54
Oplus_131072
Oplus_131072

WAJAHINDONESIA.CO.ID, MAKASSAR – Anggota DPRD Kota Makassar, Irwan Djafar mendukung pemerintah kota menuntaskan penanganan anak jalanan gelandangan, pengemis dan pengamen atau Anjal Gepeng.

KPU

Itu disampaikan Irwan saat menggelar sosialisasi penyebarluasan Perda nomor 2 tahun 2008 tentang Pembinaan Anak Jalanan, Gelandangan, Pengemis dan Pengamen di Kota Makassar, di Hotel Grand Town, Minggu (7/7/2024).

“Kalau kita lihat misalnya di lampu merah itu banyak sekali pengamen. Mereka bebas karena tidak diawasi,” ujarnya.

Legislator Nasdem Makassar ini menegaskan Dinas Sosial sebagai leading sektor untuk terus melakukan pembinaan. Begitu juga dengan penjaringan ke jalan-jalan.

“Ketika Dinas Sosial tidak berhenti melakukan ini maka tentunya pasti efektif. Kalau hanya sekali dua kali tiap bulan tentu ini tidak berdampak,” tambahnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Sosial Kota Makassar, Andi Pangeran menyampaikan, anjal adalah mereka yang beraktivitas di jalanan sekitar delapan jam. Sehingga, memang perlu pengawasan dan kontrol dari pemerintah.

“Sementara, gelandangan sesuai perda ini yakni seseorang hidup tidak layak dan tidak memiliki pekerjaan. Gepeng ini pindah-pindah,” jelasnya.

“Pengemis, mereka yang mengatasnamakan lembaga dan mencari penghasilan dengan meminta-minta dijalan atau ditempat umum,” tambahnya.

Oplus_131072

Pembinaan anjal dan gepeng, sambung mantan Camat Panakkukang ini, ada tiga yakni pencegahan, pembinaan lanjutan dan rehabilitasi sosial.

“Langkah pencegahan ada empat, diantaranya itu pendataan dan pemantauan,” katanya.

Sementara itu, Masri menyampaikan mengatakan, angka anjal dan gepeng pasca ditetapkan Perda Nomor 2 Tahun 2008 terus mengalami peningkatan.

Dia mengusulkan, poin tambahan dalam perda nantinya ada item yang mengatur keberadaan pak ogah. Sebab, pak ogah ini dinilai menganggu ketertiban umum utamanya dalam berkendara.

“Kenapa mereka memilih dijalan itu karena ada kesenjangan. Tidak meratanya kaya dan miskin. Nah, inimi yang perlu diatur sedemikian rupa,” tandasnya. (*)

Redaksi
Redaksi Minggu, 07 Juli 2024 15:54
Komentar